Wednesday, October 5, 2016

Pertolongan Pada Cedera Olahraga



Cedera olahraga adalah cedera pada sistem otot dan rangka tubuh yang disebabkan oleh kegiatan olahraga. Pencak silat adalah sistem beladiri yang mempunyai empat nilai sebagai satu kesatuan, yakni nilai etis, teknik, estetis, dan atletis. Nilai-nilai tersebut selain merupakan nilai-nilai pencak silat juga merupakan corak khas dan keistemewaan pencak silat yang bersumber dari budaya masyarakat rumpun melayu. Substansi pencak silat yang mempunyai empat aspek sebagai satu kesatuan, terdiri atas: aspek mental-spiritual, beladiri, seni, dan olahraga.
1. Keseleo (Sprains)
Keseleo adalah jenis cedera yang paling sering dialami oleh para atlit di saat berlatih. Keseleo yang dialami mulai dari bagian pergelangan kaki, kaki bagian bawah, hingga lutut merupakan bagian-bagian yang paling sering terjadi di olahraga Pencak Silat, terutama bagian pergelangan dan medial collateral ligament (semacam pengikat sendi tulang). Untuk menghindari keseleo, diperlukan pemanasan yang cukup dan stretching yang tepat bisa mencegah terjadinya cedera tersebut.
2. Otot Tertarik atau Kram (Strains)
Jenis cedera ini terjadi akibat otot tertarik pada arah yang salah, kontraksi otot yang berlebihan atau ketika terjadi kontraksi, otot belum siap.Strains sering terjadi pada bagian groin muscles (otot pada kunci paha), hamstrings (otot paha bagian bawah), dan otot quadriceps. Cedera tertarik otot betis juga kerap terjadi pada atlit Pencak silat. Fleksibilitas otot yang baik bisa menghindarkan diri dari cedera macam ini. Kuncinya dalah selalu melakukan stretching setelah melakukan pemanasan, terutama pada bagian otot-otot yang rentan tersebut agar terhindar dari cedera.
3. Patah atau Retak Tulang (Fractures)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjCwmIa4NjJqjCAycR61KVr2YN_9ddLRK5eeewgebUXPxTvVXFlkZ_apurA93CehHWyKRuaxzkddI3gRFZEzJOkqOjQOF54rvwqQz-FXJNfc0g_xh_dHvEgQynfKMa4MQ5BE8KIu42-3cTd/s200/1096.jpg

 Cedera seperti ini dialami apabila atlit mengalami benturan dengan atlit lain dengan kerass. Cedera fractures tidak hanya terjadi pada bagian kaki macam tulang, tulang kering, atau tulang telapak kaki, tapi juga kerap terjadi pada lengan, bahu, hingga pergelangan tangan. Untuk menghindari cedera macam ini, penggunaan pelindung sangat dianjurkan untuk meminimalisir patah atau retak tulang. Banyak kasus terjadi disaat pesilat melakukan tendangan sabit langsung di tangkis oleh pesilat lain sehingga terjadi patah pada tulang pergelangan tanggganya.
  4. Cedera Pada Lutut (Knee Injuries)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKDBNTShZk1KiAHvte5KA4jF1jN9PtLLjoO0tX6kk6NvA4I-KO22l60pj3JiDO8UCR9p0Sl99Hg1GGqXDVv5YMchpHZ-0MDCIhLnI_126uzRvm28afWJKrN3pb9db6vMQQcooBMIMH4C-T/s200/knee_collateral_anatomy02.jpgAda beberapa jenis cedera lutut yang umum dan sering dialami oleh pesilat,  yaitu cedera pada medial collateral ligament, meniscus, dan anterior cruciate ligament, baik itu sobek pada jaringan, maupun putusnya jaringan tersebut.  hal ini terjadi salahnya melakukan angkatan atau bantingan sehingga terjadi kesalahan penahanan pada lutut, melakukan penahan secara tidak sengaja pada lutut di saat terjadinya sapuan oleh lawan. Latihan kekuatan (strength training) yang tepat bisa mengurangi risiko terjadinya cedera lutut.





5. Cedera Pada Kepala (Head Injury)
Cedera ini termasuk juga cedera pada gigi, hidung, mata, dan cedera otak. Namun yang paling sering dialami atlit Pencak Silat adalah cedera akibat salah serang yang di lakukan oleh pesilat lain seperti serangan pukulan yang terlalu ke atas atau serangan tendangna yang langsung tidak terkendali mengenai rahang atau mata pesilat lebih lanjutnya dapat membuat retak kepala pesilat. Dihanjurkan pesilat yang akan turun benar benar pesilat yang sudah layak turun

C. Penyebab Terjadinya Cedera Olahraga
Banyak faktor-faktor yang menyebabkan cedera olahraga itu terjadi baik dari sisi orangnya ataupun sarana dan prasarananya, adapun faktor -faktor penting penyebab terjadinya cedera olahraga dan kurang baik akan memudahkan terjadinya cedera.
1. Faktor olahragawan atau olahragawati Dimana dalam faktor ini meliputi beberapa faktor lainya yakni:
a. Umur
b. faktor pribadi
c. Pengalaman
d. Tingkat latihan
e. Tehnik
f. Kemampuan awal (warming up)
g. Recoveri period
h. Kondisi tubuh yang "fit"
i. Keseimbangan nutrisi
j. Hal - hal yang umum

2. Peralatan dan fasilitas
a. Peralatan: bila kurang atau tidak memadai, design yang jelek
b. Fasilitas: kemungkinan alat-alat proteksi badan, jenis olahraga yang bersifat body contack, serta jenis-jenis olahraga yang khusus (Andun, 2000 : 20).

3. Karakter dari pada olahraga Setiap cabang olahraga mempunyai tujuan tertentu dan cedera yang dialami juga bermacan – macam makadari itu harus diketahui sebelumnya (Irawan, 2011 : 8).

D. Usaha Pencegahan Cedera
Kita sering mendengar kata mencegah itu lebih baik dari pada mengobati. Banyak cara pencegahan yang terlihat biasa – biasa saja tetapi semua itu tetap harus diperhatikan. Usaha untuk mencegah terjadinya cedera olahraga dapat dikerjakan pada saat sebelum latihan, latihan, dan sesudah latihan.
a. Usaha sebelum latihan

Kerjakan latihan pemanasan sebelum berolahraga. Latihan pemanasan meningkatkan aliran darah ke otot-otot dan menaikkan suhu otot-otot. Hal ini menyebabkan otot lebih lentur dan tahan terhadap cedera, latihan pemanasan yang dianjurkan ada dua tahap yaitu:
1. Peregangan

Latihan meregangkan tubuh merupakan pencegahan cedera terpenting dalam dunia olahraga. Bila seorang berlatih dengan keras, otot mereka menderita cedera yang minimal atau sedikit (Rahardjo, 1992:41). Adapun untuk teknik-teknik peregangan yang baik dan benar adalah:
a. Selalu lakukan peregangan tanpa timbul rasa nyeri
b.Regangkanlah semua kelompok otot besar dan sendi yang akan digunakan dalam latihan
c. Bernapas secara normal selama latihan peregangan
d. Lakukan samapai terasa tegang(tapi tanpa nyeri) dan tetap pada posisi tersebut selama 10 detik.
e. Lakukan berulang-ulang 3 sampai 5 kali untuk setiap kelompok otot (Satmoko, 1993:145).

2. Calisthenic

Selanjutnya lakukan pemanasan dengan gerakan-gerakan yang sama atau sesuaikan dengan olahraga yang akan dikerjakan. Mulailah dengan perlahan-lahan dan secara berangsur-angsur tingkatkan intensitasnya (Rahardjo, 1992:42).
a. Latihan Untuk mencegah terjadinya cedera, maka dalam latihanpun harus diperhatikan peraturan umum latihan olahraga. Sehingga sesorang sebaiknya berlatih dengan cara yang benar, yang sesuai dengan aturan permainan (Rahardjo, 1992:42).
b. Sesudah latihan Sesudah berolahraga hendaknya jangan langsung istirahat. Sebaiknya kerjakan pendinginan, gerak-gerak ringan, misalnya jogging, dan diakhiri dengan peregangan lagi kemudian baru beristirahat. (Rahardjo, 1992:42). c. Merawat atau mengobati cedera Ada tiga hal yang penting dalam merawat cedera diantaranya:
1. Mengurangi atau menghentikan tekanan yang menyebabkan cedera tersebut.
2. Mengurangi peradangan yang terjadi dan sedapat mungkin mengusahakan proses penyembuhan yang (secara) alami.
3. Senantiasa mewaspadai faktor-faktor yang dapat menimbulkan cedera tersebutkambuh kembali (Taylor, 1997: 267).

E. Pertolongan Pertama Pada Cedera Olahraga

Pertolongan pertama adalah pertolongan sementara yang diberikan kepada korban yang sakit mendadak atau mendapat kecelakaan sebelum mendapat pertolongan dari seorang ahli (dokter) atau petugas kesehatan (Rahardjo, 1992 : 46). Pertolongan pertama adalah meliputi segala sesuatu yang harus dipersiapkan untuk memberikan perawatan darurat pada saat terjadi cedera secara tiba-tiba. Tujuan dari pertolongan pertama ini adalah untuk merawat orang yang mengalami cedera sebelum mereka mendapatkan pengobatan secara medis (Taylor, 1997: 338).
1. Tujuan penangan pertama Pertolongan tersebut dimaksudkan untuk meringankan beban sakit yang diderita oleh seseorang yang mengalaminya, dan adapun tujuan dari pertolongan pertama adalah:
a. Mencegah bahaya maut atau mempertahankan hidup
b. Meringankan penderitaan korban dengan jalan: - Memberikan perasaan tenang pada korban - Mengurangi rasa takut, gelisah dan bahaya yang lebih besar
c. Mencegah penurunan kondisi korban (Rahardjo, 1992 : 46)

2. Pokok-pokok tindakan penanganan pertama pada cedera olahraga
a. Jangan panic Bertindak cekatan tetapi tetap dalam keadaan tenang karena ketenangan akan membantu untuk dapat bertindak tepat dan benar.
b. Pertahankan pernafasan korban kerjakan segera pernafasan buatan bila pernafasan korban berhenti.
c. Hentikan pendarahan Bila ada pendarahan, hentikan dengan cara menekan tempat perdarahan dengan tangan beberapa saat sampai pendarahan berhenti. Bila keadaan mengijinkan, untuk menekan tempat perdarahan bisa dipergunakan sapu tangan, kain yang bersih atau kasa pembalut dengan mengikatnya.
d. Perhatikan tanda-tanda shock Bila korban menunjukkan tanda-tanda shock, korban diterlentangkan dengan meletakkan kepala lebih rendah dari bagian tubuh lainya.
e. Jangan memindahkan korban terburu-buru

Jangan pindahkan dari tempatnya sebelum dapat dipastikan derajat keparahan cedera yang dialaminya (Rahardjo, 1992 : 46).
Dibawah ini akan dibahas P3K pada cedera olahraga :
1. P3K pada cedera memar
Kompres dengan es atau air dingin, kalau perlu balut dengan pembalut tekan (Rahardjo, 1992 : 47).
2. P3K pada cedera kram otot
a) Lakukan peregangan pada otot yang kejang
b) Pijat – pijat lah otot tersebut
c) Bila penyebab suhu udara yang tinggi, beringkanlah penderita ditenpat yang sejuk dan beri minum air garam (oralit) (Rahardjo, 1992 : 53).
3. P3K pada cedera patah tulang
a) Hentikan perdarahan bila ada perdrahan
b) Bila terjadi gugat (shock) atasi lebih dahulu
c) Kerjakan perwatan bila ada agar dapat mencegah terjadinya infeksi
d) Pasang bidai pada tulang yang diduga patah agar tulang yang patah itu tidak bisa bergerak atau terjadi gesekan (Rahardjo, 1992 : 51).
4. P3K pada cedera dislokasi
a) Pasang bidai bila perlu
b) Kompres es (ingat RICE)
c) Segera kirim kerumah sakit untuk secepatnya dikerjakan reposisi (Rahardjo, 1992 : 51).
5. P3K pada pingsan
a) Baringkan penderita ditempat yang teduh dengan udara yang segar
b) Letakkan kepala tanpa bantal, bila muka merah boleh diberi bantal dan dimiringkan agar kalau muntah mudah keluar
c) Longgarkan pakaiannya
d) Selimuti penderita agar tidak kedinginan
 e) Jangan member makan atau minum pada penderita yang tidak sadar
f) Beri bau – bauan (amoniak) dan bila perlu bawa kerumah sakit/dokter (Rahardjo, 1992 : 53).
6. P3K pada cedera strain
a) Istirahat
b) Kompres es
c) Bebat (RICE) (Rahardjo, 1992 : 54).
7. P3K pada cedera sprain
a) Istirahat
b) Kompres es
c) Bebat (RICE) (Rahardjo, 1992 : 55).
8. P3K pada testis &scrotum
a) Istirahat
b) Kompres es kemudian penderita di anjurkan untuk kencing. Bila air seni penderita tercampur dengan darah, segerah kirim kerumah sakit (Rahardjo, 1992 : 55).
9. P3K pada perdarahan
a) Bagian anggota tubuh yang berdarah ditinggikan
b) Tekan pembuluh darah nadi/arteri yang terletak di antara tempat pendarahan dan jantung
c) Beri segera pembalut penekan pada tempat perdarahan setelah luka dibersikan dari kotoran yang ada

No comments:

Post a Comment