PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 1
1.
APITA
MARELI : 06061181419001
2.
ATIKA
RIFA WINARSO : 06061181419010
3. SHUFIANDI RASYID : 06061181419012
4. FEBI AGUNG KURNIAWAN : 06061181419013
5. TRISUSANTO : 06061181419076
6. LEO SUGIANTO : 0606118141907
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
FAKULTAS KEGURURAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN
TAHUN AKADEMIK 2014/2015
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pertumbuhan dan perkembangan seseorang
berlangsung sejak dilahirkan sampai dengan mati. Memiliki arti kuantitatif atau
segi jasmani bertambah besar bagian-bagian tubuh. Kualitatif atau psikologis
bertambah perkembangan intelektual dan bahasa (Siti Rahayu).
Pertumbuhan dan
perkembangan dicakup dalam kematangan. Manusia disebut matang jika fisik dan
psikisnya telah mengalami pertumbuhan dan perkembangan sampai pada tingkat
tertentu (Langeveld).
Konsep pertumbuhan dan
perkembangan berlangsung secara interpendensi saling bergantung satu sama lain.
Tidak bisa dipisahkan tetapi bisa dibedakan untuk memperjelas
penggunaannya (Sunarto, 1999).
Perkembangan individu
sangat dipengaruhi oleh adanya pertumbuhan jika seorang individu mengalami
pertumbuhan yang baik maka perkembangan akan baik pula. Pernyataan ini
berbanding lurus dengan H.M. Arifin tentang perkembangan, bahwa perkembangan
diprasyarati oleh adanya pertumbuhan, oleh karena itu pertumbuhan sangatlah
mendukung perkembangan seseorang (Diah Puji, 2009).
Fase perkembangan
individu tidak terlepas dari proses pertumbuhan individu itu sendiri.
Perkembangan pribadi individu meliputi beberapa tahap atau periodisasi
perkembangan, antara lain perkembangan berdasarkan analisis Biologis,
perkembangan berdasarkan Didaktis, perkembangan berdasarkan Psikologis.
2.
Rumusan Masalah
a.
Apa pengertian perkembangan fisik peserta didik ?
b. Apa faktor yang
mempengaruhi perkembangan fisik peserta didik?
c. Bagaimana perkembangan
keterampilan motorik ?
d. Bagaimana keterampilan
dasar pada masa anak akhir peserta didik?
e. Apa pengertian dan
proses sosialisasi?
f. Apa peranan kelompok dan
permainan ?
g. Apa pengertian
penyesuaian sosial ?
h. Apa pengertian emosi?
i. Apa saja macam emosi ?
j. Apa manfaat mempelajari
perkembangan emosi anak ?
k. Apa faktor yang
mempengaruhi perkembangan emosi ?
l. Apa saja kecerdasan
emosional ?
3.
Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini lebih kepada untuk
mengetahui tentang :
a.
Perkembangan Fisik
b.
Perkembangan Sosial
c.
Perkembangan Emosional
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Perkembangan Fisik
- Pengertian Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik atau tubuh
seseorang terjadi karena pertumbuhan dan perkembangan tulang, sistem saraf,
sirkulasi darah, otot, serta berfungsinya hormon. Perkembangan fisik peserta
didik usia SD/MI meliputi pertumbuhan tinggi dan berat badan, perubahan
proporsi atau perbandingan antarbagian tubuh yang membentuk postur tubuh,
pertumbuhan tulang, gigi, otot, dan lemak. Secara langsung, pertumbuhan dan
perkembangan fisik anak akan menentukan keterampilan anak bergerak.
Secara tidak langsung pertumbuhan dan perkembangan fisik akan mempengaruhi cara
anak memandang dirinya sendiri dan cara anak memandang orang lain, yang
berdampak lebih lanjut dalam melakukan penyesuaian dengan dirinya dan
orang lain.
Ketika anak berusia lima
tahun, tinggi tubuhnya sudah dua kali dari tinggi/panjang tubuh saat ia lahir.
Setelah itu mulsi melambat kira-kira 7 cm setiap tahun, dan pada usia 12/13
tahun tinggi anak sudah mencapai sekitar 150 cm. Masih bertambah
tinggi sampai usia 18 tahun ketika anak mengakhiri masa remajanya.
Perkembangan berat tubuh
peserta didik yang normal pada usia lima tahun akan memiliki berat tubuh
sekitar lima kali beratnya ketika dilahirkan. Pada akhir masa anak
sekolah beratnya sekitar 35-40 kg. Pada usia 10-12 tahun atau mendekati
permulaan masa remaja, anak-anak mengalami masa periode lemak.
Gejalanya pada masa dua
tahun terakhir ini ( 10-12 tahun). Nafsu makan anak semakin besar diiringi
dengan pertumbuhan tubuh yang cepat.
Perkembangan fisik tidak
hanya berarti pertumbuhan dan penambahan ukuran tubuh (tinggi dan berat badan),
tetapi juga proporsi tubuh atau perbandingan besar kecilnya anggota badan
secara keseluruhan.
Bentuk tubuh anak dapat
di golongkan dalam 3 bentuk yaitu :
1. Bentuk tubuh endomorf
yang cenderung menjadi gemuk dan berat;
2. Bentuk tubuh mesomorf
yang cenderung menjadi kekar dan berat;
3. Bentuk tubuh ektomorf
yang cenderung kurus dan bertulang panjang.
Ketiga bentuk tubuh ini
mulai tampak jelas pada saat anak mengakhiri masa anak akhir.
Selain perkembangan
ukuran tinggi dan berat, serta proporsi tubuh, terjadi pula pertumbuhan tulang,
gigi, otot, dan lemak. Pertumbuhan tulang ( jumlah dan komposisi ) pada peserta
didik usia SD/MI cenderung lambat dibandingkan masa anak awal dan remaja.
Pengerasan tulang dari tulang rawan menjadi tulang keras berlangsung terus
sampai akhir masa remaja.
Sebagian peserta didik
usia SD/MI berada pada awal masa remaja yang dikenal dengan masa puber. Pada
masa ini terjadi perubahan fisik yang sangat pesat baik dalam ukuran tinggi dan
berat badan, maupun dalam proporsi tubuh, yang disebabkan oleh kematangan
kelenjar dan hormon yang berkaitan dengan pertumbuhan seksual.
2.
Faktor yang memengaruhi Perkembangan Fisik
Pertumbuhan fisik
peserta didik usia SD/MI berlangsung lebih lambat dibandingkan dengan tingkat
pertumbuhan pada masa sebelumnya (masa bayi dan kanak-kanak awal ) dan
sesudahnya ( Masa puber dan masa remaja). Pada masa anak akhir,
pertumbuhan fisik relatif seimbang, meskipun masih tetap ada perbedaan
individual setiap peserta didik. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan
fisik anak, baik secara umum maupun individual.
Diantaranya adalah sebagai berikut :
a.
Pengaruh keluarga, baik faktor keturunan maupun lingkungan
keluarga.
Faktor keturunan dapat
membuat anak menjadi lebih gemuk daripada anak lainnya sehingga lebih berat
tubuhnya. Orang-orang Amerika, Eropa dan Australia cenderung lebih tinggi dari
pada orang dan anak Asia. Faktor lingkungan akan membantu menentukan
tercapai tidaknya perwujudan potensi keturunan yang dibawa anak tersebut. Pada
setiap tahap usia termasuk usia SD/MI, lingkungan lebih banyak
pengaruhnya terhadap berat tubuh daripada tinggi tubuh.
- Jenis kelamin
Anak laki-laki cenderung
lebih tinggi dan lebih berat dibandingkan dengan anak perempuan, kecuali pada
usia 12-15 tahun, yang terjadi sebaliknya. Kecenderungan ini terjadi karena
bangun tulang dan otot pada anak laki-laki memang berbeda dengan anak
perempuan.
- Gizi dan Kesehatan
Anak yang memperoleh
gizi cukup biasanya lebih tinggi tubuhnya dan relatif lebih cepat mencapai masa
puber dibandingkan dengan yang memperoleh gizi kurang. Demikian pula, anak yang
sehat dan jarang sakit biasanya memiliki tubuh sehat dan lebih berat
dibandingkan dengan anak yang sering sakit.
- Status sosial ekonomi
Keadaan status sosial
Ekonomi mempengaruhi peran keluarga dalam memberikan makanan, gizi, dan
pemeliharaan kesehatan, serta kegiatan pekerjaan yang dilakukan oleh anak-anak
tersebut.
- Gangguan Emosional
Anak yang sering terkena
gangguan emosional akan menyebabkan terbentuknya steroid adrenalin yang
berlebihan. Hal ini menyebabkan berkurangnya hormon pertumbuhan pada kelenjar
pituitary, dan akibatnya anak mengalami keterlambatan perkembangan/pertumbuhan
memasuki masa puber.
Dalam mempelajari
perkembangan fisik peserta didik usia SD/MI, kita tidak sekedar mengetahui
pertumbuhan fisiknya saja, tetapi lebih dari itu bagaimana pertumbuhan
fisik mempengaruhi perkembangan aspek lainnya secara keseluruhan.
2. Perkembangan
Keterampilan Motorik
Perkembangan motorik
berarti perkembangan pengendalian gerakan jasmani melalui kegiatan pusat
syaraf, dan otot yang terkoordinasi. Apabila tidak ada gangguan fisik
atau lingkungan maupun hambatan mental yang mengganggu perkembangan motorik,
secara normal anak berusia 6 tahun akan siap menyesuaikan diri dengan tuntunan
sekolah dan berperan serta dalam kegiatan bermain dengan teman sebayanya.
Perkembangan motorik
tergantung pada kematangan otot dan syaraf. Perkembangan motorik juga mengikuti
pola atau hukum arah perkembangan, yaitu urutan perkembangan mulai dari kepala,
kemudian bagian tubuh, dan anggota tubuh (tangan dan kaki).
Pola perkembangan
motorik dapat diramalkan, yang dimulai dari gerakan yang bersifat umum atau
kasar menjadi gerakan yang semakin spesifik dan halus. Misalnya, gerakan
motorik yang membentuk landasan bagi keterampilan tangan dan kaki tergantung
pada kerampilan gerak yang dikuasai sebelumnya.
Keterampilan motorik
yang bekoordinasi yang baik dapat dipelajari/dilatih dan berkembang menjadi
kebiasaan. Sebenarnya, semasa anak sangat ideal untuk mempelajari keterampilan
motorik. Keterampilan gerakan motorik pada umumnya dipelajari dengan berbagai
cara. Pertama, uji coba (trial and error). Apabila tidak ada bimbingan dan
model untuk ditiru, anak melakukan tindakan coba-coba secara acak. Kedua, meniru atau imitasi dengan cara mengamati
keterampilan gerak motorik suatu model (orang dewasa anak atau yang lebih
besar). Dan yang ketiga pelatihan terbimbing pada waktu mengamati model yang
memperlihatkan keterampilan gerakan motoriknya sehingga anak dapat menirunya dengan
tepat dan cepat.
Terdapat jumlah keterampilan
gerakan motorik yang umum pada masa anak usia sekolah. Pertama, keterampilan
tangan, seperti menggunakan alat-alat makan, serta menangkap dan melempar bola.
Kedua, keterampilan kaki seperti melompat, berlari, memanjat, dan mengendarai
sepeda. Dalam perkembangan motorik dapat terjadi masalah biasanya
berkenaan dengan:
- Keterlambatan atau keterbelakangan kemampuan gerakan motorik yang dimiliki anak dan dibandingkan dengan anak usianya.
- Harapan yang tidak realistik dari orang dewasa akan keterampilan motorik yang harus dikuasai anak, serta ketidaksanggupan mempelajari keterampilan gerakan motorik penting sehingga menghambat penyesuaian pribadi dan sosial anak.
3.
menggambar, dan memanipusi alat permainan.
3.
Keterampilan Dasar pada Masa Anak Akhir
Hurlock (1991)
mengemukakan empat keterampilan dasar berikut yang perlu dikuasai anak
SD/MI pada masa anak akhir.
1.
Keterampilan menolong diri sendiri (self help), yang perlu
dilatihkan agar anak dapat mencapai kemandiriannya. Termasuk dalam keterampilan
ini ahli keterampilan makan, mandi, berpakaian dan merawat diri. Pada
akhir masa anak akhir, anak diharapkan sudah mampu membantu dan merawat diri
sendiri dengan tingkat keterampilan dan kecepatan seperti orang dewasa.
2.
Keterampilan menolong orang lain (sosial), yang diperlukan anak
dapat oleh sekelompok sosialnya. Seperti, keluarga, sekolah dan lingkungan
sekitarnya. Agar dapat diterima menjadi anggota yang kooperatif, anak
memerlukan keterampilan seperti menolong orang lain dalam
pekerjaaan rumah atau sekolah.
3.
Keterampilan bermain, yang diperlukan anak untuk belajar berbagai
hal dan menikmati kegiatan kelompok dan menghibur diri sendiri. Di antara
keterampilan bermain yang perlu dipelajari anak ialah keterampilan
berlari, bermain bola,
4.
Keterampilan bersekolah atau skolastik, yang diperlukan anak agar
dapat mengikuti dan berprestasi dalam belajar sekolah. Pada tahun-tahun awal
sekolah, sebagian kegiatan anak melibatkan keterampilan motorik halus seperti
melukis, menggambar, menari, dan menyanyi. Semakin banyak dan baik keterampilan
yang dimiliki anak, maka semakin baik pula penyesuaian sosial yang dilakukan,
serta semakin baik pula prestasi sekolahnya, baik presentasi akademis maupun
presentasi yang non-akademis.
4.
Perkembangan Sosial
1. Pengertian dan proses
sosialisasi
Perkembangan sosial
berarti perolehan kemampuan berprilaku yang sesuai dengan tuntunan sosial
(Hurlock, 1990). Tuntunan sosial pada perilaku sosial anak tergantung dari
perbedaan harapan dan tuntunan dari perbedaan harapan dan tuntunan budaya
dalam masyarakat tempat anak tumbuh kembang, serta usia dan tugas
perkembangannya.
Pada masyarakat
pedesaan, anak usia 4-5 tahun tidak mesti masuk Taman Kanak-kanak. Tetapi,
budaya masyarakat kota menuntun anak usia tersebut bersekolah di TK.
Belajar hidup
bermasyarakat memerlukan sekurangnya tiga proses tersebut:
1.
Belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial. Setiap
kelompok sosial mempunyai standar bagi para anggotanya tentang perilaku dapat
diterima dalam kelompok tersebut. Agar dapat diterima dalam kelompok, maka para
anggota termasuk peserta didik usia SD/MI harus menyesuaikan perilakunya dengan
standar kelompok tersebut.
2.
Memainkan peran sosial yang dapat diterima. Agar dapat diterima
dalam kelompok selain dapat menyesuaikaan perilaku dengan standar kelompok,
peserta didik juga dituntut untuk memainkan peran sosial dalam bentuk pola-pola
kebiasaan yang telah disetujui bersama bagi orang tua dan anak, bagi peran bagi
guru dan siswa.
3.
Perkembangan sikap sosial. Untuk dapat bergaul dalam masyarakat,
peserta didik juga harus menyukai orang atau terlibat dalam aktivitas sosial
tertentu. Jika anak dapat melakukanya dengan baik, maka ia dapat melakukan
penyesuaian sosial yang baik dan diterima sebagai aanggota kelompok.
Kemampuan peserta didik melakukan sosialisasi,
antara lain dipengaruhi oleh sejumlah faktor:
1.
Kesempatan dan waktu untuk sosialisasi, hidup dalam masyarakat
membutuhkan kesempatan dan waktu lebih banyak untuk bergaul dengan orang-orang
sekitarnya.
2.
Kemampuan berkomunikasi dengan kata-kata yang dapat dimengerti
peserta didik bahkan orang dewasa lain. Peserta didik perlu menguasai kemampuan
berbicara dengan topik yang dapat dipahami dan menarik bagi orang lain.
pembicaraan yang bersifat sosial bukan pembicaraan yang egosentris.
3.
Motivasi peserta didik untuk mau belajar bersosialisasi. Motivasi
bersosialisasi tergantung juga pada tingkat kepuasan yang dapat diberikan
melakukan aktivitas sosial kepadanya.
4.
Metode belajar efektif dan bimbingan bersosialisasi. Dengan adanya
metode belajar sosialisasi melalui kegitan bermain peran yang menirukan orang
yang diidolakan, maka peserta didik cenderung mengikuti peran sosial tersebut.
Akan menjadi lebih efisien dan belajar lebih cepat apabila ada bimbingan dan
arahan dalam aktivitas belajar bergaul dan memilih teman.
Salah satu hal penting
dalam perkembangan sosial adalah pentingnya pengalaman sosial awal bagi perkembangan
dan perilaku sosial sekarang dan selanjutnya pada masa remaja dan dewasa. Anak
yang lebih memilih berinteraksi dengan manusia akan mengembangkan keterampilan
sosial yang lebih dari pada anak yang bermain sendiri dengan benda dan alat
permainannya.
Sikap positif terhadap
diri sendiri lebih sering dijumpai pada orang yang berpengalaman sosial awal
menyenangkan. Perkembangan sosial sebenarnya sudah dimulai sejak anak
dilahirkan. Sosialisasi pada bayi dan anak kecil antara lain dengan meniru ekspresi
orang di sekitarnya, rasa takut dan malu terhadap orang lain yang tidak/kurang
dikenal, kelekatan/ketergantungan pada orang yang sangat dekat ( ibu, pengasuh,
anggota keluarga yang lain), mencari perhatian, menerima atau melawan otoritas
tuntunan orang tua/dewasa, persaingan, kerja sama atau bertengkar dengan teman
sebaya, egosentris atau bersimpati dan empati terhadap orang di sekitarnya.
Selanjutnya perkembangan
sosial pada masa puber kadang sudah dialami oleh peserta didik di SD kelas 5
atau 6. Pada masa ini perkembangan sosial terganggu karena terjadi perubahan
fisik seksual yang sangat pesat, sehingga anak cenderung menarik diri, kurang
dapat berinteraksi dan bersoaialisasi dengan orang lain.
2. Peranan Kelompok dan
Pemainan
Pada masa anak akhir,
Kelompok/geng anak memegang peran penting dalam perkembangan sosial.
Kesadaran sosial berkembang pesat, anak membutuhkan teman-teman sebaya untuk
melakukan berbagai aktivitas dalam kehidupannya. Kelompok bermain yang pada
masa anak awal berbentuk secara spontan, Informal dan sementara, tergantung
pada kegiatan bermain, biasanya hanya terdiri dari 2-3 anak saja.
Pengaruh kelompok terhadap sosialisasi anak
dilakukan dalam hal:
1.
Membantu anak bergaul dengan teman sebaya dan berperilaku yang
dapat diterima secara sosial dalam kelompoknya;
2.
Membantu anak mengembangkan kesadaran rasional dan skala nilai
untuk melengkapi atau mengganti nilai orang tua yang sebelumnya cenderung
diterima anak sebagai “kata hati” yang otoriter;
3.
Mempelajari sikap sosial yang pantas melalui pengalamannya dalam
menyukai orang dan cara menikmati kehidupan serta aktivitas kelompok;
4.
Membantu kemandirian anak dengan cara memberikan kepuasan
emosional melalui persahabatan dan teman-teman sebaya.
Peserta didik usia SD/MI
membutuhkan penerimaan dalam kelompok dan melakukan segala sesuatu untuk
menghindari penolakan kelompok dengan cara memiliki keterampilan yang
dibutuhkan untuk melakukan aktivitas bermain yang sesuai dengan minat dan
keinginan kelompok.
Permainan atau bermain,
merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan kesenangan, tanpa
mempertimbangkan hasil akhir, dilakukan dengan sukarela tanpa ada paksaaan atau
tekanan dari luar apalagi kewajiban. Melalui kegiatan bermain dan permainan,
selain mendapatkan kegembiraan, anak juga belajar sesuatu.
Permainan atau bermain
setidaknya memiliki empat manfaat. Pertama, latihan fungsi, guna melatih fungsi
motorik kasar melalui permainan kejar-kejaran dan permainan dengan bola besar.
Melalui permainan puzzle anak selain berlatih motorik halus juga berlatih
fungsi kognitif menghubungkan potongan gambar dengan benar. Kedua, sarana
sosialisasi terutama bermain dalam kelompok, anak belajar bekerja sama dengan
teman lain, dan saling pinjam meminjami alat permainan. Ketiga, mengukur
kemampuan terutama untuk permainan yang dilombakan seperti perlombaan lari
cepat, dan permainan olah raga. Kempat, menempa emosi/sikap melalui kegiatan
untuk mentaati aturan permainan,dan bersikap sportif.
Mengingat pentingnya permainan
bagi perkembangan anak, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru
atau orang dewasa lainnya. Yaitu:
1. Sebaiknya tidak
mengganggu anak yang sedang asyik bermain.
2. Memberi kesempatan dan
ruang bermain yang cukup kepada anak.
3. Memilihkan alat
permainan yang memungkinkan anak menjadi kreatif.
4. Mendampingi dan
membimbing anak ketika bermain.
5. Menjaga keseimbangan
aktivitas bermain dengan istirahat, makan dan belajar.
3. Penyesuaian Sosial
Anak yang dapat
menyesuaikan diri dengan baik mempelajari dengan berbagai macam keterampilan
sosial seperti kemampuan untuk menjalin hubungan dengan orang lain (teman,
orang yang tidak/baru kenal) dan menolong orang lain sehingga menjadi anak yang
disenangi.
Terdapat beberapa kriteria penyesuaian sosial yang baik.
1. Tampilan nyata, dimana
perilaku sosial anak sesuai dengan standar kelompok dan memenuhi harapan
kelompok sehingga diterima menjadi anggota kelompok.
2. Penyesuaian diri
terhadap berbagai kelompok, dimana anak dapat menyesuaikan diri bukan hanya
dalam kelompoknya sendiri, tetapi juga dengan kelompok lain.
3. Sikap sosial, dimana
anak menunjukkan sikap yang menyenangkan terhadap orang lain, serta
ikut berpartisipasi dan berperan dalam kelompok, baik sebgai pemimpin maupun
anggota kelompok.
5. Perkembangan Emosi
1. Pengertian Emosi
Dalam kehidupan
sehari-hari, emosi sering diistilahkan dengan perasaan. Misalnya, seorang siswa
mengatakan hari ini ia merasa senang karena dapat mengerjakan semua pekerjaan
rumah (PR) dengan baik. Siswa lain mengatakan bahwa ia takut menghadapi ujian.
Senang dan takut berkenalan dengan perasaan, kendati dengan makna yang berbeda.
Senang termasuk perasaan senang, sedangkan takut termasuk emosi.
Perasaan timbul karena
ada rangsangan dari luar, bersifat subjektif dan temporer. Misalnya, sesuatu
yang dirasakan indah oleh seseorang pada waktu melihat suatu lukisan, mungkin
tidak indah baginya beberapa tahun yang lalu, dan tidak indah bagi orang
lain.
Ada juga perasaan yang
bersifat menetap menjadi sesuatu kebiasaan dan membentuk adat istiadat. Misalnya,
orang Padang senang makan pedas, orang Sunda senang makan sayur/ lalapan
sambal.
Simpati dan empati
merupakan bentuk perasaan yang cukup penting dalam kehidupan bersosialisasi
dengan orang lain. Simpati adalah suatu kecenderungan untuk senang atau
tertarik kepada seseorang. Empati adalah suatu kondisi perasaan jika seseorang
berada dalam situasi orang lain. biasanya kita rasakan saat melihat film atau
sinetron dramatis.
Minimal ada empat ciri
emosi yaitu:
1. Pengalaman emosional
bersifat pribadi/subjektif, ada perbedaan pengalaman antara individu yang satu
dengan yang lainnya.
2. Ada perubahan secara
fisik (jika marah jantung berdetak lebih cepat).
3. Diekspresikan dalam
perilaku seperti takut, marah, sedih dan bahagia.
4. Sebagai motif, yaitu
tenaga yang mendorong seseorang melakukan kegiatan, misalnya orang yang sedang
marah mempunyai tenaga dan dorongan untuk memukul atau merusak barang.
Emosi anak seringkali
berbeda dengan emosi remaja dan orang dewasa.
Ciri khas penampilan
atau ekspresi emosi anak antara lain:
1. Reaksi emosional kuat
terhadap situasi yang sederhana/remeh maupun yang serius, namun dapat berubah
dengan bertambahnya usia anak.
2. Seringkali tampak dalam
bentuk ekspresi fisik dan gejala. Misalnya, perubahan roman muka, dan gerakan
tubuh, dan ada juga anak yang menjadi gelisah, melamun, dan menggigit
kuku.
3. Bersifat sementara,
kalau sedih anak menangis tapi setelah itu cepat berhenti bila perhatiannya
dialihkan.
4. Reaksi emosi
mencerminkan individualitas anak. Misalnya, jika anak ketakutan, menjerit, lari
dan bersembunyi dibalik seseorang.
2. Macam Emosi
Emosi dan perasaan yang
umumnya pada peserta didik usia SD/MI adalah rasa takut, khawatir/cemas, marah
cemburu, merasa bersalah dan sedih, ingin tahu, gembira/senang, cinta dan kasih
sayang.
Terjadi variasi rasa
takut pada anak yang dipengaruhi oleh tingkat intelegensi, jenis kelamin,
status sosial ekonomi, kondisi fisik, hubungan sosial, urutan kelahiran, dan
keperibadian anak (introvert atau ekstrovert). Rasa takut pada anak biasanya
berkaitan dengan rasa malu yang merupakan bentuk penarikan diri anak dari
hubungan dengan orang lain, juga dengan rasa canggung dan ragu apabila ada
orang yang tidak dikenal atau orang yang dikenal dengan penampilan tidak
seperti biasanya.
Anak menyelubungi
perasaan takut, khawatir, dan cemas dengan berperilaku tidak sebagaimana
biasanya, seperti makan berlebihan, menonton televisi secara berlebihan, dan
menyalahkan orang lain. Tingkat kekhawatiran dan kecemasan tergantung pada
kemampuan anak dalam mengelola ancaman yang dibayangkan akan terjadi.
Rasa marah merupakan
suatu perasan yang dihayati oleh anak yang cenderung bersifat menyerang.
Rangsangan yang bisa menimbulkan kemarahan anak adalah rintangan (dari orang
lain ataupun ketidakmampuan dirinya) terhadap gerak yang di inginkan anak, juga
rintangan terhadap keinginan, rencana dan niat yang ingin dilakukan serta
sejumlah kejengkelan yang tertumpuk.
Reaksi anak terhadap
kemarahan dapat digolongkan menjadi dua yaitu :
1. Reaksi infulsif biasanya
disebut juga agresi, berupa reksi fisik maupun kata-kata yang ditunjukan kepada
orang lain, binatang, maupun benda. Ledakan kemarahan pada anak kecil disebut “
temper tantrum” dengan cara memukul, menggigit, meludah, dan menyepak.
2. Kemarahan yang ditekan
dengan cara menyalahkan diri sendiri, atau mengancam untuk melarikan diri, juga
bersikap apatis/masa bodoh.
Rasa bersalah dan sedih
berkenaan dengan kegagalan atau kesalahan melaakukan sesuatu perbuatan yang
bertentangan dengan norma yang berlaku. Perasaan ini merupakan salah satu
emosi yang tidak menyenangkan. Oleh karena itu, orang dewasa berusaha agar
anak-anak terhindar atau sedikit mungkin mengalami kesedihan karena dianggap
dapat merusak kebahagiaan anak.
Reaksi kegembiran anak
diekspresikan dari sekedar senyum sampai tertawa gembira sambil mengerakkan
tubuh, dan bertepuk tangan.
Cemburu adalah reaksi
normal terhadap kehilangan kasih sayang yang nyata dan adanya ancaman
kehilangan kasih sayang. Rasa cemburu biasanya hilang apabila anak dapat
menyesuaikan diri dengan baik di sekolah, dan dapat muncul kembali apabila guru
membandingkan dengan anak atau teman lain. reaksi langsung rasa cemburu
diekspresikan dengan perilaku perlawanan agresif seperti memukul, mendorong dan
berusaha mencelakai orang yang dianggap saingannya.
Reaksi tidak langsung
terhadap cemburu di tunjukkan dengan sikap kekanakan atau infantil, seperti
mengisap jempol, ngompol, dan ngambek, untuk mendapat perhatian dari orang tua
atau guru.
Anak usia SD/ MI akan
bergerak ke sumbernya dan mempunyai minat terhadap segala sesuatu di
lingkungannya, termasuk dirinya sendiri. Semakin anak besar, aktivitas bertanya
digantikan dengan membaca, dan melakukan eksperimen untuk memuaskan rasa ingin
tahunya.
3. Manfaat mempelajari perkembangan
emosi anak
Emosi memang peranan
penting dalam kehidupan dan kebahagiaan anak. Oleh karena itu, untuk
mempelajari emosi anak biasanya dilakukan melalui pengamatan terhadap ekspresi
yang jelas tampak, terutama ekspresi wajah dan tindakan yang berkaitan dengan
berbagai emosi.
Manfaat ataupun kerugian
bagi penyesuaian pribadi dan sosial dapat bersifat fisik dan/atau psikis
sebagai berikut (Hurlock, 1990).
1. Emosi menambah rasa
nikmat bagi pengalaman sehari-hari. Kenikmatan tersebut terutama ditimbulkan
oleh akibatnya yang menyenangkan.
2. Emosi menyiapkan tubuh
untuk melakukan tindakan. Emosi yang semakin kuat akan semakin menggoncangkan
keseimbangan tubuh untuk persiapan bertindak.
3. Ketegangan emosi dapat
mengganggu keterampilan motorik. Persiapan tubuh untuk bertindak ternyata
menimbulkan gangguan pada keterampilan motorik sehingga anak menjadi canggung
dan dapat menyebabkan timbulnya gangguan bicara, seperti bicara tidak jelas dan
gagap.
4. Emosi merupakan suatu
bentuk komunikasi, yang dilakukan melalui perubahan mimik wajah dan fisik yang
menyertai emosi. Anak dapat mengkomunikasikan perasaan mereka kepada orang lain
dan mengenal berbagai jenis perasaan orang lain.
5. Emosi dapat mengganggu
aktivitas mental. Aktivitas mental seperti konsentrasi mengingat dan penalaran,
sangat mudah dipengaruhi oleh emosi yang kuat.
6. Emosi merupakan sumber
penilaian diri dan sosial. Cara orang dewasa menilai ekspresi emosi anak akan
menjadi dasar bagi anak dalam menyesuaikan dirinya.
7. Emosi mewarnai anak
memandang kehidupan. Peran dan posisi anak dalam kelompok sosialnya dipengaruhi
oleh emosi yang ada pada anak, seperti malu, takut, agresif, ingin tahu, dan
bahagia.
8. Emosi, baik yang
menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, mempengaruhi interaksi sosial.
Melalui emosi, anak belajar mengubah perilakunya agar dapat menyesuaikan diri
dengan tuntunan dan harapan sosial.
9. Emosi memperlihatkan
kesannya pada ekspresi wajah. Emosi yang menyenangkan akan mempercantik wajah
anak, sedangkan emosi yang tidak menyenangkan akan menyeramkan wajah dan
menyebabkan anak jadi kurang menarik. Umumnya kemenarikan seseorang dipengaruhi
oleh ekspresi wajahnya.
10. Emosi mempengaruhi
suasana psikologis, baik di rumah, di sekolah, atau dikelompok bermainnya.
Misalnya, anak yang gagal dalam melakukan tugas, merasa kesal sehingga mengubah
suasana psikologis menjadi kemarahan, dan anak merasa tidak dicintai dan
ditolak.
11. Reaksi emosional apabila
diulang-ulang akan berkembang menjadi kebiasaan. Jika anak menjumpai reaksi
sosial yang tidak menyenangkan, maka anak akan mendapatkan kesukaran untuk
mengubah kebiasaan.
4. Faktor yang mempengaruhi
Perkembangan Emosi
Beberapa faktor atau
kondisi yang mempengaruhi perkembangan emosi anak, diantaranya sebagai berikut:
1.
Dengan bertambahnya usia anak, maka semua bentuk emosi pada anak
diekspresikan secara lebih lunak, tidak meledak-ledak.
2.
Kondisi fisik anak dan taraf kemampuan intelektualnya, serta
kondisi lingkungan.
3.
Keberhasilan emosi yang memenuhi kebutuhan anak. Jika ledakan
marah berhasil memenuhi kebutuhan anak akan perhatian dan memberikan apa yang
diinginkan anak, maka anak tidak hanya akan terus menggunakan perilaku tersebut
untuk mencapai tujuan dan akan menambah intensitas ledakan marah.
4.
Kelompok akan mempengaruhi ekspresi. Misalnya, anak laki-laki
lebih sering mengekspresikan marah daripada anak perempuan. Rasa cemburu juga
lebih kuat di kalangan anak pertama di bandingkan dengan anak yang lahir
kemudian dari keluarga yang sama.
5.
Cara mendidik anak turut menentukan perkembangan emosi anak. Orang
tua atau guru yang mendidik dengan cara otoriter mendorong timbulnya rasa cemas
dan takut, sedangkan cara mendidik yang demokratis mendorong berkembangna
semangat dan rasa kasih sayang.
6.
Kematangan yang disebabkan perkembangan intelektual mengakibatkan
anak lebih memahami berbagai hal sehingga anak lebih reaktif terhadap
rangsangan.
7.
Pengalaman belajar anak juga turut mnenyebabkan pola perkembangan
emosinya, dengan cara menentukan reaksi potensial yang akan di gunakan anak
untuk merespon rangsangan emosional tertentu.
5. Kecerdasan emosional
Terdapat berbagai cara
untuk mengendalikan lingkungan dan pengalaman belajar emosi, baik utuk
memperkuat pola reaksi emosi yang diinginkan, atau menghilangkan pola reaksi
yang tidak diinginkan.
Perkembangan emosi dapat dipelajari antara lain dengan
cara atau metode berikut:
1.
Anak mencoba-coba dalam mengekspresikan emosinya dalam
bentuk perilaku yang dapat diterima. Belajar dengan cara meniru (imitasi)
dilakukan melalui pengamatan yang membangkitkan emosi tertentu pada orang lain.
2.
Belajar dengan cara mempersamakan diri (identifikasi) dengan orang
lain yang dikagumi atau mempunyai ikatan emosional dengan anak lebih kuat
dibandingkan dengan motivasi untuk meniru sembarang orang.
3. Belajar melalui
mengkondisikan berarti belajar perkembangan emosi dengan cara asosiasi atau
menghubungkan antara stimulus (rangsangan) dengan respon (reaksi).
4.
Belajar melalui pelatihan (training) dibawah bimbingan dan
pengawasan guru atau orang tua.
Pada diri setiap
individu, termasuk peserta didik usia SD/MI, ada emosi dominan yaitu satu atau
beberapa emosi yang menimbulkan pengaruh terkuat terhadap perilaku seseorang
dan mempengaruhi kepribadian anak, khususnya dalam penyesuaian pribadi dan
sosial.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan :
Perkembangan fisik sangat berkaitan erat dengan perkembangan
motorik anak. Fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks dan
sangat mengagumkan. Perkembangan fisik manusia terjadi mengikuti prinsip
Chepalocaudal , yaitu bahwa kepala dan bagian atas tubuh berkembang lebih
dahulu, sehingga bagian atas tampak lebih besar daripada bawah. Sedangkan
perkembangan motorik merupakan perubahan tingkah laku motorik yang terjadi
secara terus-menerus sepanjang siklus kehidupan manusia yang dipengaruhi oleh
tuntutan – tuntutan tugas ,biologis individual dan juga lingkungan.
Perkembangan motorik meliputi dua tahapan yaitu motorik kasar dan motorik
halus.
• Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan
otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi
oleh kematangan anak itu sendiri. Contohnya kemampuan duduk, menendang,
berlari, naik-turun tangga dan sebagainya.
• Sedangkan motorik
halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota
tubuh tertentu, yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih.
Misalnya, kemampuan memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menyusun
balok, menggunting, menulis dan sebagainya. Kedua kemampuan tersebut sangat
penting agar anak bisa berkembang dengan optimal.
·
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Fisik-Motorik
A. Faktor yang mempengaruhi perkembangan fisik anak :
1) Faktor kematangan
2) Faktor Keturunan
Tinggi tubuh
Kecepatan pertumbuhan
3) Pengaruh lain
Perbedaan jenis kelamin
Kondisi waktu lahir
Nutrisi
Penyakit
B. Faktor yang
mempengaruhi perkembangan motorik anak :
1) Kondisi fisik dan intelektual anak.
2) Faktor gizi
3) Pola pengasuhan anak
4) Lingkungan
DAFTAR PUSTAKA
Elizabeth
hurlock B. 2006. PsikologI perkembangan (suatu pendekatan sepanjang rentang
kehidupan). Jakarta, Erlangga.
No comments:
Post a Comment